Strategi Menghindari Kecurangan Pelaporan Keuangan

Diperlukan kecermatan dalam membaca laporan keuangan. Agar terhindar dari tuntutan pidana, seorang manajer keuangan juga perlu paham aspek hukumnya. Inilah strategi menghindari kecurangan pelaporan keuangan.

Pasal 23 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN (UU BUMN) menyebutkan bahwa, dalam waktu lima bulan setelah tahun buku Persero ditutup, Direksi wajib menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS untuk memperoleh pengesahan. Laporan tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditandatangani oleh semua anggota Direksi dan Komisaris.

Berdasarkan pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan wujud pertanggungjawaban manajemen dalam mengelola sumber daya koorporasi serta merupakan indikator penilaian kesehatan BUMN. Oleh karena itu informasi yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan harus mengandung Informasi yang memiliki kualitas andal dan bebas dari kesalahan hukum formal dan material.

Untuk memastikan aktivitas keuangan yang diterapkan dalam perusahaan serta penyajian laporan keuangannya sudah sesuai dengan standar akuntansi serta peraturan hukum yang berlaku maka seorang manajer keuangan atau internal auditor harus memiliki kemampuan lebih untuk mendeteksi adanya kecurangan atau manipulasi dalam sebuah laporan keuangan.

Menurut Pengurus Ikatan Akuntansi Bandung, Marisi P. Purba, S.E., M.H., Ak, CA, deteksi ini sangat diperlukan untuk menghindarkan pengurus perusahaan baik dewan direksi atau dewan komisaris mendapat tuntutan hukum baik secara perdata atau pidana dari pihak yang merasa kepentingannya dirugikan di kemudian hari.

“Laporan Keuangan yang sudah sesuai dengan standar akuntansi dan kaidah hukum yang berlaku dapat menghindarkan pengurus perusahaan dari tuntutan pihak lain,” ujarnya. Pihak yang berkepentingan tersebut antara lain kreditur, pemegang saham, karyawan dan pemerintah yang dalam hal ini adalah kantor pajak.

Dewasa ini banyak sekali cara yang bisa digunakan oleh pihak-pihak yang “nakal” untuk memanipulasi laporan keuangannya. Apabila cara ini lolos dari pengawasan pihak auditor internal tentu akan berakibat fatal bagi perusahaan.

Lebih lanjut Marisi mengatakan, perlu strategi menghindari kecurangan pelaporan keuangan. Ada beberapa teknik yang bisa dipakai dalam melakukan manipulasi laporan keuangannya yaitu melakukan pengakuan pendapatan terlalu dini, mencatatkan pendapatan fiktif, serta mengatur cara depresiasi dan amortisasi.

Meski secara akuntansi pemakaian teknik tersebut tidak sesuai dengan hukum maka pihak yang menerapkannya dapat dituntut secara pidana atau perdata. Untuk itulah selain menguasai ilmu akuntansi, ada baiknya seorang manajer keuangan atau internal auditor belajar tentang kaidah hukum yang berkaitan dengan aspek keuangan. @IA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *